02/09/2026 9:36 AM

Hotspot Kalimantan Meledak, BMKG Ungkap El Nino Sangat Kuat Picu Lahan Makin Kering

Kebakaran Hutan Kepung Kalimantan, Asap Tebal Selimuti Permukiman Warga. Warga di sejumlah wilayah Kalimantan, Indonesia, berjibaku menghadapi kebakaran hutan yang meluas dan menghanguskan tanaman serta area perkebunan pada Kamis (13/8/2026). Foto: Reuters

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kian mengkhawatirkan. Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah daerah, sementara jumlah titik panas atau hotspot melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap kondisi iklim yang sangat kering akibat pengaruh El Nino dengan intensitas sangat kuat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kondisi kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan api berpotensi berkembang lebih cepat.

“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Ardhasena, Jumat (21/8/2026).

Berdasarkan pemantauan BMKG pada dasarian pertama Agustus 2026, indeks SSTA di wilayah Nino3.4 mencapai +2,77, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +2,20. Sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) mencapai +0,457, naik dari +0,242 pada Juli.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih menghadapi musim kemarau. BMKG mencatat sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 zona musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius karena sejumlah wilayah berada dalam kondisi waspada hingga siaga terhadap kemarau dan ancaman karhutla.

BMKG mengingatkan mitigasi harus dilakukan secara cepat dan berkelanjutan, mengingat masih terdapat titik-titik api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran lebih luas.

“Masih banyak titik api yang perlu dimitigasi,” ujar Ardhasena.

Hotspot Kalimantan Melonjak Tajam

Ancaman karhutla semakin terlihat dari lonjakan titik panas di sejumlah provinsi di Kalimantan.

Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan yang dipantau melalui satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua menunjukkan 518 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan pada 19 Agustus 2026.

Jumlah tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 109 titik.

Secara kumulatif, sepanjang 17-19 Agustus 2026, terdapat 750 hotspot berkepercayaan tinggi yang terdeteksi di tiga provinsi tersebut.

Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa ancaman karhutla di Kalimantan semakin serius. Perpaduan kemarau, kondisi lahan yang mengering, serta pengaruh El Nino yang sangat kuat menciptakan kondisi yang sangat mudah memicu dan mempercepat penyebaran api.

Jika tidak segera dikendalikan, kebakaran bukan hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi memperluas sebaran kabut asap serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Penanganan titik api pun tidak bisa ditunda. Pemantauan, patroli, pemadaman dini, hingga langkah pencegahan harus diperkuat untuk memastikan api tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

Kalimantan kini menghadapi ancaman karhutla yang semakin nyata. Lonjakan hotspot menjadi alarm agar seluruh upaya mitigasi dilakukan lebih cepat sebelum api meluas dan kabut asap semakin parah.

Sumber: detik.com

Topik

BERITA TRKAIT

BERITA TERBARU