08/08/2026 2:53 AM

Hadapi Era AI, Pemerintah Aceh Tegaskan Pendidikan Islam Tetap Berbasis Syariat dan Kearifan Lokal

Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya memperkuat pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI) tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat Islam dan kearifan lokal sebagai fondasi membangun Generasi Emas Indonesia 2045.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Aceh Muzakir Manaf melalui Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., saat menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Aceh Ikatan Guru dan Dosen Al-Washliyah (IGDA) sekaligus membuka Seminar Nasional bertema “Kurikulum Pendidikan Islam dan Tantangan Teknologi AI dalam Membentuk Generasi Emas dalam Perspektif Local Wisdom Keacehan” di Aula Dinas Syariat Islam Aceh, Minggu (26/7/2026).

Dalam sambutan gubernur yang dibacakan Misran Fuadi, disebutkan bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, serta mendorong lahirnya inovasi dan riset di bidang pendidikan. Namun, pemanfaatan teknologi harus tetap diimbangi dengan penguatan karakter, akhlak, dan nilai-nilai keislaman.

“Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab,” kata Misran saat membacakan sambutan Gubernur Aceh.

Pemerintah Aceh juga berharap kepengurusan baru IGDA Aceh dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam, memperkuat dakwah intelektual, serta melahirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas keacehan.

Menurutnya, Aceh memiliki modal sosial dan budaya yang kuat berupa nilai-nilai Islam dan kearifan lokal yang telah menjadi pedoman kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Filosofi Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana harus terus diinternalisasikan dalam sistem pendidikan agar tetap relevan menghadapi perkembangan zaman.

Karena itu, Pemerintah Aceh mengajak perguruan tinggi, organisasi profesi guru dan dosen, pesantren, sekolah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang inovatif, berkualitas, dan mampu mengoptimalkan pemanfaatan AI tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal yang menjadi jati diri Aceh.

Seminar nasional tersebut diharapkan menghasilkan berbagai rekomendasi strategis sebagai bahan penyusunan kebijakan pendidikan Islam di Aceh, sehingga mampu menjawab tantangan era digital sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.

Usai kegiatan, Misran Fuadi menegaskan bahwa pembangunan pendidikan di Aceh tidak semata-mata berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi muda yang berlandaskan syariat Islam.

“Penguasaan AI harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, moral, dan nilai-nilai Islam. Aceh harus mampu melahirkan generasi yang cakap menghadapi kemajuan teknologi, namun tetap menjunjung tinggi syariat Islam, budaya, dan jati diri daerah. Itulah komitmen Pemerintah Aceh dalam membangun pendidikan menuju Generasi Emas 2045,” tegasnya.

Ia berharap kepengurusan baru IGDA Aceh mampu menjadi motor penggerak peningkatan profesionalisme guru dan dosen, mendorong inovasi pembelajaran, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga pendidikan.

Dinas Syariat Islam Aceh, lanjut Misran, akan terus mendorong lahirnya berbagai kebijakan dan program pendidikan Islam yang responsif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memastikan nilai-nilai syariat Islam dan kearifan lokal Aceh tetap menjadi landasan utama dalam membangun generasi masa depan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

Topik

BERITA TRKAIT

BERITA TERBARU