25/09/2026 6:40 PM

PFI Hadirkan “Prahara Pulau Emas”, Ketika Foto Menjaga Ingatan dan Membangun Kesiapsiagaan

Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, didampingi fotografer senior Oscar Motuloh, Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, dan Ketua PFI Aceh, M. Anshar, melihat karya foto bencana Sumatera yang dipamerkan pada pembukaan pameran foto “Prahara Pulau Emas” di Museum Tsunami, Banda Aceh, Senin (3/8/2026). Foto: PFI Aceh/Riza Azhari

Di balik setiap foto yang terpajang di Museum Tsunami Aceh, tersimpan cerita tentang kehidupan yang berubah dalam hitungan detik. Ada tangis yang tak sempat diucapkan, harapan yang nyaris padam, hingga keteguhan manusia untuk kembali bangkit setelah bencana merenggut rumah, keluarga, dan ruang hidup mereka.

Itulah yang dihadirkan Pewarta Foto Indonesia (PFI) melalui Roadshow Pameran dan Peluncuran Buku Foto Jurnalistik “Prahara Pulau Emas”, yang berlangsung di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada 3–8 Agustus 2026.

Sebanyak 68 karya foto hasil bidikan 38 pewarta foto dari berbagai daerah di Indonesia dipamerkan sebagai rekam jejak berbagai bencana yang pernah melanda Pulau Sumatra. Setiap karya bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengingat bahwa di balik setiap peristiwa selalu ada kisah kemanusiaan yang layak dikenang dan dipelajari.

Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, pada Senin (3/8/2026). Banda Aceh menjadi kota kedua dalam rangkaian roadshow setelah Padang, Sumatera Barat, sebelum berakhir di Medan, Sumatera Utara.

Aceh dan Memori yang Tak Pernah Hilang

Bagi masyarakat Aceh, pameran ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Dua dekade lalu, tsunami 26 Desember 2004 mengubah wajah Aceh dan meninggalkan luka yang masih hidup dalam ingatan banyak orang.

Karena itu, setiap foto yang dipamerkan seakan mengajak pengunjung kembali mengingat bahwa bencana bukan hanya catatan sejarah. Ia adalah pelajaran yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya agar kesiapsiagaan tidak pernah pudar.

Museum Tsunami Aceh pun menjadi lokasi yang sarat makna. Di tempat yang dibangun sebagai simbol mengenang korban sekaligus pusat edukasi mitigasi bencana itu, karya-karya foto jurnalistik menemukan ruang yang tepat untuk berbicara kepada publik.

Foto Jurnalistik sebagai Rekaman Sejarah

Dalam sambutannya, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan foto jurnalistik memiliki kekuatan yang melampaui sekadar gambar. Setiap foto mampu merekam sejarah, membangun empati, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga alam dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Pameran ini bukan sekadar menampilkan gambar, melainkan rekaman sejarah. Ketika masyarakat tidak merawat bumi, dampaknya jauh lebih besar. Pembelajaran ini penting agar pemerintah mempersiapkan diri menjadi daerah yang tangguh bencana. Pemerintah membutuhkan pewarta foto untuk merekam kondisi nyata di lapangan,” ujar Illiza.

Menurutnya, pemerintah membutuhkan dokumentasi visual yang jujur agar setiap kebijakan kebencanaan lahir dari realitas yang benar-benar terjadi di lapangan, bukan sekadar angka dalam laporan.

Kamera yang Menjadi Saksi Kemanusiaan

Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, menyebut “Prahara Pulau Emas” sebagai monumen ingatan kolektif atas berbagai bencana yang melanda Pulau Sumatra.

Baginya, kamera pewarta foto bukan hanya alat untuk bekerja, melainkan saksi perjalanan manusia menghadapi kehilangan sekaligus ketangguhan untuk bangkit.

“Kamera pewarta foto bukan sekadar alat bekerja, melainkan saksi visual atas runtuhnya ruang hidup sekaligus penuntun kemanusiaan. Kami menghadirkan karya ini secara beretika untuk memuliakan ketangguhan manusia dalam melewati masa-masa sulit, bukan untuk mengeksploitasi penderitaan,” kata Dwi.

Pesan itulah yang menjadi ruh pameran ini. Bukan menghadirkan kesedihan semata, tetapi memperlihatkan bagaimana solidaritas, gotong royong, dan harapan selalu tumbuh di tengah situasi paling sulit.

Ketika Foto Menghadirkan Perubahan Nyata

Ketua PFI Aceh, M. Anshar, mengatakan fotografi jurnalistik tidak berhenti sebagai dokumentasi sejarah. Foto juga mampu menggerakkan kepedulian dan melahirkan aksi nyata.

Hal tersebut dibuktikan melalui dukungan PFI Pusat yang diwujudkan dalam pembangunan sumur bor air bersih di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

“Foto jurnalistik tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga mampu menggerakkan kepedulian. Melalui dukungan PFI Pusat, kami memperoleh amanah membangun sumur bor air bersih di Kabupaten Pidie Jaya. Ini menjadi bukti bahwa karya foto dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Anshar.

Pada pembukaan pameran, bantuan pembangunan sumur bor tersebut juga diserahkan secara simbolis sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana.

Menyiapkan Generasi Pewarta Foto Berintegritas

Selain pameran dan peluncuran buku, PFI juga menggelar diskusi fotografi jurnalistik bersama fotografer senior Oscar Motuloh dan Danu Kusworo.

Forum yang diikuti mahasiswa serta komunitas fotografi dari berbagai daerah di Aceh itu menjadi ruang berbagi pengalaman tentang etika jurnalistik, teknik bercerita melalui foto, hingga tanggung jawab pewarta saat meliput peristiwa kemanusiaan dan kebencanaan.

Rangkaian pembukaan juga diakhiri dengan penyerahan cendera mata kepada para mitra strategis, di antaranya PLN Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, PT Bank Aceh Syariah, PT Solusi Bangun Andalas, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Museum Tsunami Aceh, dan Danlanud Sultan Iskandar Muda.

Lebih dari Sebuah Pameran

“Prahara Pulau Emas” bukan sekadar deretan foto yang dipajang di ruang pamer. Ia adalah perjalanan menyusuri jejak bencana, melihat luka yang pernah ada, sekaligus menyaksikan keteguhan manusia untuk bangkit.

Di Aceh—tanah yang pernah diuji oleh salah satu bencana terbesar dalam sejarah—setiap foto menjadi pengingat bahwa mitigasi bukan hanya soal sirene, jalur evakuasi, atau bangunan yang kokoh. Mitigasi dimulai dari ingatan yang terus dirawat, kepedulian yang terus ditumbuhkan, dan kesadaran bahwa setiap orang memiliki peran dalam mengurangi risiko bencana di masa depan.

Topik

BERITA TRKAIT

BERITA TERBARU