Pagi di Kilonam selalu datang dengan cara yang berbeda. Sebelum matahari sepenuhnya terbit, hamparan kabut putih telah lebih dulu memenuhi lembah, menyelimuti pepohonan dan perbukitan hingga membentuk lautan awan yang memukau. Dari ketinggian, siapa pun yang berdiri di sana akan merasa seolah berada di negeri di atas awan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, cahaya matahari perlahan menembus kabut yang menggantung di antara bukit-bukit hijau. Pepohonan hanya tampak samar, sementara udara pegunungan yang dingin berpadu dengan aroma tanah basah dan dedaunan yang masih diselimuti embun. Pemandangan ini menjadi alasan banyak wisatawan memilih bermalam demi menyaksikan momen terbaik yang hanya berlangsung beberapa jam setiap pagi.
Permata Tersembunyi di Pedalaman Pidie
Agrowisata Kilonam berada di Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, tepat di jalur lintas Geumpang–Meulaboh. Lokasinya sekitar enam kilometer dari Pasar Geumpang atau sekitar 100 kilometer dari Kota Sigli.
Meski berada di pedalaman, perjalanan menuju Kilonam justru menjadi bagian dari pengalaman. Jalan yang membelah pegunungan menyuguhkan panorama hutan, lembah, dan udara yang semakin sejuk hingga akhirnya pengunjung tiba di sebuah bukit dengan pemandangan terbuka yang menghadap hamparan perbukitan Aceh.
Dari Kebun Menjadi Destinasi Wisata
Di balik pesona Kilonam, tersimpan kisah sederhana. Safriati, yang akrab disapa Titi, bersama keluarganya awalnya hanya mengelola perkebunan kopi dan durian. Namun panorama alam yang setiap hari mereka saksikan perlahan mengubah cara pandang terhadap lahan tersebut.
“Awalnya kami hanya berkebun. Karena pemandangannya begitu indah, kami akhirnya terinspirasi menjadikannya sebagai tempat wisata,” ujar Titi.
Sejak 2024, kawasan itu mulai dikembangkan menjadi agrowisata tanpa menghilangkan identitasnya sebagai kawasan perkebunan.
Kini, kebun kopi, durian, dan jeruk berpadu harmonis dengan area wisata yang tetap mempertahankan suasana alami.
Wisata yang Menyatu dengan Alam
Tidak ada bangunan megah ataupun wahana modern di Kilonam. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tariknya.
Di punggung bukit tersedia area berkemah yang langsung menghadap lembah. Di bawahnya mengalir air terjun setinggi sekitar 30 meter yang menjadi tujuan favorit saat kabut mulai menghilang menjelang siang.
Di sisi lain terdapat kolam renang anak, kolam ikan, kebun-kebun produktif, serta sebuah kafe sederhana yang menjadi tempat menikmati secangkir kopi sambil memandangi pegunungan.
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Wisatawan hanya membayar makanan atau minuman yang dipesan di kafe. Bagi yang ingin bermalam, tersedia penyewaan tenda seharga Rp150 ribu per malam untuk tiga hingga empat orang.
Lepas Sejenak dari Hiruk Pikuk
Satu hal yang membuat Kilonam terasa berbeda adalah suasananya yang benar-benar tenang.
Tidak ada sinyal telepon seluler di kawasan ini. Pengunjung hanya dapat mengakses internet melalui jaringan Wi-Fi di sekitar kafe. Selebihnya, waktu dihabiskan untuk menikmati alam, berbincang, atau sekadar duduk memandangi kabut yang perlahan berubah menjadi hamparan bukit hijau.
Pagi menghadirkan lautan awan. Menjelang siang, matahari memperlihatkan lanskap pegunungan yang utuh. Saat sore tiba, kabut kembali turun perlahan dan menciptakan suasana yang hangat sekaligus menenangkan.
Mulai Dilirik sebagai Destinasi Baru Aceh
Keindahan alam Kilonam kini mulai menarik perhatian berbagai kalangan.
Akhir pekan lalu, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Usman atau Kak Ana, turut menikmati pengalaman bermalam di kawasan ini bersama rombongan TP PKK Kabupaten Pidie. Dari depan tenda, ia menyaksikan langsung lautan kabut yang menyelimuti lembah sejak pagi.
“Tempat ini sangat indah. Tidak kalah dengan daerah lain,” ujarnya.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa Kilonam mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam baru di Aceh. Dengan panorama negeri di atas awan, udara pegunungan yang sejuk, air terjun alami, serta hamparan kebun yang menghijau, Kilonam menawarkan pengalaman yang sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam bagi setiap orang yang datang.





