01/09/2026 6:48 AM

Ekonomi Aceh Mulai Menguat, Sekda: Momentum Pemulihan Harus Dijaga

Ilustrasi, warga memadati pasar Meugang musiman di kawasan Geudong, Aceh Utara, untuk membeli daging menjelang Hari Raya Idul Adha, 16 Juni 2024. Foto: tabaca/Zik Maulana

Perekonomian Aceh mulai menunjukkan penguatan pada pertengahan 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Aceh pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Secara triwulanan, ekonomi Aceh tumbuh 3,77 persen dibandingkan Triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada Semester I 2026 mencapai 4,48 persen.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, S.IP., MPA., menyebut capaian tersebut sebagai sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi masyarakat mulai kembali bergerak.

“Alhamdulillah, berdasarkan data BPS, kita melihat perkembangan yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Aceh pada Triwulan II menunjukkan akselerasi. Ini tentu menjadi sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi masyarakat mulai bergerak lebih baik,” ujar Nasir.

Ekonomi Menguat, Ekspor dan Mobilitas Ikut Melaju

Penguatan ekonomi Aceh juga tercermin dari kinerja perdagangan. Pada Juni 2026, nilai ekspor Aceh mencapai US$85,31 juta, meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei 2026.

Kenaikan tersebut antara lain ditopang batu bara, CPO, dan kopi. Pada saat yang sama, nilai impor Aceh turun 75,15 persen secara bulanan sehingga Aceh mencatat surplus neraca perdagangan sekitar US$59 juta.

“Peningkatan ekspor dan surplus perdagangan ini tentu kita sambut baik. Ke depan, yang perlu kita dorong adalah bagaimana memperkuat daya saing produk Aceh, memperluas pasar, serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi dan industri pengolahan,” kata Nasir.

Aktivitas mobilitas masyarakat juga menunjukkan perkembangan positif. Jumlah penumpang domestik melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda pada Juni 2026 mencapai 22.502 orang, naik 31,03 persen dibandingkan Mei.

Sementara penumpang angkutan laut mencapai 116.406 orang, meningkat 32,58 persen secara bulanan dan 16,82 persen secara tahunan.

Menurut Nasir, peningkatan mobilitas tersebut menjadi indikator bergeraknya kembali aktivitas ekonomi domestik, terutama perdagangan, jasa, transportasi, perhotelan, dan pariwisata.

Di sektor pariwisata, BPS mencatat 2.553 kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada Juni 2026. Tingkat penghunian kamar hotel berbintang juga meningkat menjadi 29,38 persen, naik 2,35 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.

Pemerintah Aceh akan terus memperkuat sektor-sektor produktif, terutama pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan, industri pengolahan, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, dan perdagangan.

“Pertumbuhan ekonomi harus bermuara pada kesejahteraan. Kita ingin lapangan kerja bertambah, daya beli masyarakat menguat, dunia usaha berkembang, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat pembangunan,” katanya.

Nasir menegaskan momentum tersebut harus dijaga melalui penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Kita melihat tanda-tanda yang baik. Ini harus kita syukuri sekaligus kita jaga. Dengan kerja bersama, kita optimistis ekonomi Aceh akan terus tumbuh semakin kokoh, inklusif, dan memberikan kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Nasir.

Topik

BERITA TRKAIT

BERITA TERBARU