24/09/2026 11:02 AM

Satu Meja, Beda Dunia: Syarhil Quran Putri Aceh Angkat Realitas Keluarga Era Digital

Peserta grup Syarhil Putri, Ulfa Masturina, Ken Nevrety Banyu Bening, dan Naurah Clarisa saat tampil memukau di Gedung Prof. Sudarto, S.H., Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/9/2026). Foto: tabaca/Zik Maulana

Satu meja, satu rumah, tetapi perhatian terpecah ke layar masing-masing. Tak ada lagi obrolan panjang, tak ada saling menatap. Jari-jari sibuk menggulir layar, sementara orang-orang terdekat justru perlahan menjadi asing.

Potret keluarga di era digital itulah yang dibawa tiga peserta Syarhil Quran Putri Kafilah Aceh ke panggung MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Gedung Prof. Sudarto, S.H., Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/9/2026).

Ulfa Masturina, Ken Nevrety Banyu Bening, dan Naurah Clarisa tampil kompak dan percaya diri membawakan tema “Ketahanan Keluarga di Tengah Disrupsi Digital”.

Lewat syarahan yang disampaikan, ketiganya tidak hanya berbicara tentang teknologi. Mereka mengajak penonton bercermin pada perubahan yang terjadi di ruang paling dekat: keluarga.

Gambaran anggota keluarga yang duduk bersama di meja makan, tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggam, menjadi salah satu pesan yang kuat. Teknologi memang mendekatkan mereka yang jauh, tetapi tanpa kendali dapat membuat orang-orang yang paling dekat justru semakin berjarak.

Pesan itu pula yang membuat penampilan mereka terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Ketua Kafilah Aceh yang juga Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., yang menyaksikan langsung penampilan bersama jajaran tim, mengaku tersentuh dengan tema yang dibawakan.

“Ini bukan sekadar tema untuk perlombaan. Ini ada di sekitar kita, bahkan mungkin ada di dalam rumah kita sendiri. Karena itu saya merasa tersentuh melihat mereka menyampaikannya dengan cara yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Misran.

Menurutnya, kekuatan penampilan ketiga peserta terletak pada kemampuan mengubah persoalan sehari-hari menjadi pesan yang bernilai.

“Mereka berhasil membuat kita berhenti sejenak dan berpikir. Teknologi boleh semakin maju, tetapi jangan sampai hubungan dalam keluarga justru semakin mundur,” katanya.

Misran juga menyoroti pesan sederhana yang muncul dari gambaran keluarga di meja makan.

“Kadang-kadang kita bisa berjam-jam berkomunikasi dengan orang yang jauh melalui telepon, tetapi lupa berbicara dengan orang yang duduk di samping kita. Ini pengingat yang sangat kuat,” ujarnya.

Penampilan Ulfa, Ken Nevrety, dan Naurah juga mendapat dukungan langsung dari mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Semarang. Mereka hadir di venue dan ikut memberikan semangat selama penampilan berlangsung.

“Terima kasih kepada mahasiswa Aceh di Semarang. Kehadiran mereka bukan hanya membuat suasana lebih meriah, tetapi juga menunjukkan bahwa peserta kita tidak berjuang sendirian di sini,” kata Misran.

Sorakan dan tepuk tangan mahasiswa Aceh pun membuat suasana venue semakin hidup. Dukungan itu menjadi energi tambahan bagi ketiga peserta untuk menuntaskan syarahan dengan penuh percaya diri.

Misran mengatakan, kebersamaan tersebut akan terus dijaga hingga seluruh rangkaian MTQ Nasional selesai.

“Saya bersama seluruh tim akan terus membersamai mereka. Kita hadir, kita saksikan langsung, dan kita berikan semangat. Harapannya, setiap peserta bisa tampil lepas, percaya diri, dan memberikan penampilan terbaiknya,” ujarnya.

Bagi ketiga peserta Aceh, panggung Syarhil Quran hari itu bukan sekadar tempat menyampaikan materi perlombaan. Mereka membawa sebuah refleksi sederhana tentang kehidupan modern: jangan sampai teknologi membuat manusia semakin terhubung dengan dunia, tetapi semakin jauh dari keluarganya sendiri.

Sebab pada akhirnya, satu meja bukan hanya soal duduk bersama. Di sana seharusnya ada percakapan, perhatian, dan kehadiran.

Topik

BERITA TRKAIT

BERITA TERBARU